Rabu, 12 Juni 2013

Zahra Mengejar Surga




Zahra Mengejar Surga
‘Cuplikan Kisah Santriyah Penghafal Quran di Pesantren Muqaddasah litahfizil Qur’an’, Desa Nglumpang,  Ponorogo. Jawa Timur.



Hj. Millia Az Zahra
(Wafat di Kelas 2 SLTA  Pondok al Muqaddasah)
Lahir di Medan, 29 September 1999
Wafat di Ponorogo, 28 Mei 2013













Mukaddimah
Innalillahi wainnailaihi raajiuun
Hanya kalimat ini (Innalillahi: sesungguhnya kita milik Allah) yang dapat kami ucapkan dari Medan, ketika mendengar ananda tercinta almarhumah Zahra (Millia Az Zahra) dipanggil Allah keharibaan Nya. Ini merupakan musibah yang menjadi pilihan taqdir terbaik dari Allah buat Zahra, adiknya Nadwa yang sekamar dengannya, juga kami yang berada di Medan.
Antara percaya dan tidak, seakan air mata tak tertahan lagi berhamburan menetes dan lidah terasa kelu untuk berucap, karena anak pertama ini sudah melalui pendidikannya lima tahun di Pesantren Al Muqaddasah, hanya tinggal setahun lagi, tepatnya pada saat hari kedua ujian tahfiz quran, ia menghembuskan nafas terakhir. Tak sampai satu jam di rumah sakit umum Ponorogo, Zahra wafat. Diagnosa dokter terakhir, Zahra terserang demam panas, melemas tiga hari,  hingga dehidrasi dengan tanda kekurangan cairan di seluruh tubuh.
Sebagai bentuk apresiasi dan penghargaan kepada ananda Zahra yang berjuang menghafal Quran hingga 20 juz lebih, rasa hormat kami kepada Pak Kiai Hasan Abdullah Sahal, dan segenap Pondok Muqaddasah serta semua yang terlibat mendidik Zahra hingga membantu pemakamannya di Medan, kami tulis buku kecil ini semoga menjadi catatan sejarah bagi almarhumah Zahra, yang susah payah membahagiakan orang tuanya.
Usai malam ketiga tahlilan di rumah almh Zahra di Medan, hari ke empat kami berziarah ke maqam almarhuma,  terlintas di benak kami untuk menuliskan beberapa kalimat terima kasih buat Almarhumah Zahra dan kawan-kawannya, serta siapa saja yang pernah membantu Zahra semasa hidupnya, khususnya lima tahun di almamaternya Muqaddasah. Semoga buku kecil ini menjadi cacatan emas dan bukti sejarah, bahwa masih ada anak gadis yang berusia 17 tahun kurang 4 bulan, mau dengan serius menghafal Quran di Muqaddasah hingga hafal 20 juz lebih, duduk di kelas dua SLTA.
Bulan lalu, tepatnya 24 April 2013 yaitu sebulan sebelum wafatnya Zahra, saya masih berjumpa dengan ananda tercinta di pondoknya Al Muqaddasah. 24 jam bersamanya, tidak ada yang tampak dari wajahnya bahwa 30 hari berikutnya ajal menjeputnya.
Sekali lagi, Wafatnya Zahra ini adalah pilihan Allah terbaik buat kita semua. Karena, ajal pasti datang tepat pada waktunya. Terkadang, yang sehat bisa menjadi sakit, sebaliknya tak jarang yang sakit bisa sembuh dengan izin Allah semata. Masih banyak cita-cita Zahra yang tertunda, mengkhatamkan hafalannya 30 juz, mendirikan pondok Tahfiz  Quran, mengajak semua adik-adiknya  menghafal Quran. Semoga Nadwa dan Fatiya serta adik Zahra yang sedang dalam kandungan umminya enam bulan, mampu melanjutkan cita-cita yang mulia ini. Inysaallah.
Medan, 1 Juni 2013
Salam ta’zim kami,

Ummi dan Babah Zahra.









Riwayat Singkat Al Marhumah: Millia Az Zahra
Nama Lengkap                   : Hj. Millia Az Zahra
Lahir di                                  : Medan, tgl 29 September 1999
Wafat di                               : Ponorogo, tgl 28 Mei 2013
TK di TK ABA Sleman, Jogja
TK Nurul Azizi, Palem Kencana.
SD: Tekad Mulia, Puji Mulio, Sunggal.
SLTP: Al Muqaddasah
SLTA: Al Muqaddasah (hingga kelas Dua)
Negara yang pernah dikunjungi: Malaysia, India, Yordania, Arab Saudi.
Kota yang pernah dijalani: Medan, Jakarta, Jogja, Bandung, Surabaya, solo, Malang dll.














Mengejar Surga di Muqaddasah
Setelah diumumkan pada yudisium kelas tiga SLTP Muqadasah, dengan hafal 13 juz Quran, ia segera menelpon ortunya di medan. Dalam percakapan telp itu, sang ortu mengatakan agar pindah ke pondok tahfiz lain atau masuk ke Gontor Putri. Tapi, si zahra sangat menyakinkan orang tuanya agar menyempurnakan hafalan Quran nya di Muqaddasah, dengan perkiraan tiga tahun lagi akan khatamlah hafalannya hingga 30 juz. Malam yudisium itu sebagai wali si Zahra adalah pak Sanusi, yg juga menjadi saksi akhir ajal zahra di r.s Ponorogo. Tangan beliaulah yang mengangkat Zahra dalam kondisi ‘koma’ ke RSU Ponorogo.
Kelas satu SLTA ia lalui dengan sukses, walau pertukaran cuaca terkadang berpengaruh dengan kesehatannya, tetapi ia tetap menghafal Quran, sekaligus mengikuti program SMU. Terlihat, ia telah menikmati hafalan itu. Tekun, gigih dan ulet utk menghafal Quran. Walau pernah masuk ke rumah sakit Aisyiah karena demam panas, ia tetap tegar, khususnya setelah Pak Kiai mendoakan dan ia terus mengenang ucapan sang Kiai bahwa menghafal Quran sangat banyak cobaannya.
Terjadi banyak dialog di kelas, bagaimana pendapat anak-anak jika ada orang tua yang menjodohkan anaknya setamat SLTA. Apakah nikah dan kuliah mengganggu masa depan atau tidak. Dengan berani, Zahra mengatakan bahwa bapaknya sendiri menikah belum tamat dari kuliah di al Azhar Cairo.
Klimaks cerita, Zahra tiba-tiba sakit. Dipindah sekamar dengan adiknya Nadwa. Ia tetap menhafal Quran sambil di atas kasurnya. Pak Pos di medan yg selalu mengantarkan surat dari teman-teman zahra terkejut spontan mengatakan zahra yang anak gadis 17 tahun? Yang di pondok Muqaddasah? Seakan tukang pos sudah sangat paham dan mengenal si Zahra.



Inilah Zahra Kecil
Zahra lahir di RS.Sundari, Pinang Baris, Medan. Tgl 29 September 1996. Nama lengkapnya Millia Az Zahra (Millia dalam bahasa Urdu artinya agama, dan Az Zahra artinya bunga). Gabungan dua universitas, yang Babahnya kuliah. Al Azhar di Cairo dan Millia di New Delhi, India. Sebulan setelah lahir, ia ditinggalkan Babah menuju New Delhi, mengambil S.2 magister di Jamia Millia Islamia.
Zahra ikut ke India
Zahra dibawa ke India ketika usianya setahun. Dalam usia dua tahun ia ikut melaksanakan ibadah haji. Tinggal di Mekkah di kawasan Misfallah Dua. Di mana-mana banyak orang menyapanya, karena sejak kecil ia dibiasakan Umminya untuk berjilbab dan menutup aurat dengan sempurna.
            Di New Delhi, Zahra kecil tinggal di rumah sewa Prof.Dr. Dhiaul Hasan Nadwy. Ana terkecil sang Professor itu bernama Najla, selalu menjadi ingatan kami hingga kini. Beberapa kata dan kalimat bahasa India sangat mudah diucapkannya.

Dari Jeddah Menuju Medan
Bersama Umminya Hj.Herlina Mukhtar, MA, ia ke Medan via penerbangan Garuda , transit di Jkt, kemudian mendarat di Polonia Medan. Disambut atok Haji Mukhtar. Karena ia cucu pertama yang berjalan jauh, naik pesawat terbang dan sudah haji kecil. Begitulah sang Atok selalu membahagiakannya.  Sementara sang Babah hanya tinggal mengikuti ujian akhir Magister, dan setelah ujian kembali ke Medan tahun 1999 setelah mendaftarkan diri di program s.3 phd di University of Lucknow, UP,India.



Zahra di Jogja
Pada akhir tahun 1999,  itu juga, Zahra di bawa ke Jogja. Karena Babahnya mengikuti program Pembibitan Dosen di Depag, kerjasama dengan IAIN Jogjakarta. Adiknya Nadwa sudah berusia satu tahun. Zahra masuk TK ABA kelas B di Ngemplak, Widomartani, Sleman, Jogja, sekitar satu semester. Zahra kecil sudah dibawa ke berbagai universitas keliling Jogja dan menikmati TK ABA beberapa bulan. Kemudian TK beliau pindah ke Medan,  Jalan Binjai Km.11, Palem Kencana, TK Nurul Azizi.
SD Tekad Mulia
Di SD ini Zahra banyak menghabiskan waktu anak-anaknya. Karena kelas satu hingga kelas enam ia tamatkan di SD yang dipimpin oleh Drs. Parno Kartawi. Disini, ia sangat akrab berteman dengan Tasya, teman sebangkunya dari kecil selalu duduk dan bermain bersama hingga tamat.
Sejak kelas tiga, di sore hari, zahra masuk MDA Aljawahir, yang belajar di sore hari. Empat tahun ia di MDA al jawahir hingga tamat MDA yang dibawah pimpinan H. Safril Usman, SpdI.

Keinginan Sekolah di Pesantren
Setamat dari SD dan MDA, ketika kelas lima usai, ia dibawa oleh Babah dan Umminya keliling Jawa. Melihat berbagai pesantren, mulai dari Darul Arafah dan Raudhatul Hasanah  di M,edan hingga Gontor Puteri di Ngawi, Jawa Timur dan Al Muqaddasah di Ponorogo.
Setamatnya dari SD tekad mulia,  ia memutuskan untuk mencoba masuk  Muqaddasah. Pilihan ini juga didukung oleh sanak saudara, dengan singkat cerita pada acara arisan keluarga besar Ummi di rumah, ia siap ke Jawa dan saat itu ditepung tawari. Satu hal yg sangat mengharukan semua sanak saudara.
Mengharukan, karena zahra merupakan cucu pertama dari keluarga besar Ummi yang di pesantren Tahfiz Quran di Pulau Jawa. Usia Zahra saat itu baru sekitar 12 tahun.
Ikut Testing di Muqaddasah
Bersama Nadwa dan Babahnya ia ke Jawa Timur. Dari jakarta naik bus. Sampai di Ponorogo pagi. Langsung ke muqaddasah dan beberapa hari di Wisma Darusalam Gontor bersama dengan Amila anak Ust.Miftah Junaidi dan Mahmuddin Nasution. Tahun berikutnya, anak ust Malik: Fathimah dan Anas juga masuk ke pondok itu.
Selama di SLTP Muqaddasah, sanak keluarga sangat sering berkunjung dan melihat perkembangan Zahra. Ada kak Raihan yang Ustazah di Gontor Puteri selalu mengontrolnya, ada bang Haris di Gontor Satu, juga Ummi, Babah dan Neneknya datang silih berganti. Semua sangat senang melihat Zahra di Muqaddasah menghafal Quran.

SMP Al Muqaddasah:
Kelas satu hingga tamat kelas tiga dilalui Zahra dengan lancar. Nilainya di atas rata-rata dan selalu disayang guru-gurunya. Hingga ia dapat menuntaskan hafalannya sekitar sepuluh juz lebih dengan sangat baik. Sang Babah memperhatikan hafalannya ketika liburan.
Keinginannnya yang sangat kuat untuk mengkhatamkan hafalannya hingga 30 juz semakin menguat. Walaupun sangat banyak teman-teman sekelasnya yang pindah ke SLTA lain, ia tetap berkeinginan utk melanjutkan sekolah SLTA nya di Muqaddasah. karena ia sebagai anggatan kedua SLTA di al Muqaddasah.

Ingin Bahagiakan Orang Tua
Tidak ada paksaan dari orang tua Zahra untuk melanjutkan SLTA di Muqaddasah.   Di sini, terlihat dengan jelas keteguhan semangat Zahra utk membahagiankan Umi dan Babahnya. Ia sangat tahu bahwa uminya merindukannya menjadi hafizah. Zahra juga selalu mengatakan ingin bahagiakan Nenek nya, yang sangat sayang kepadanya dan selalu diistimewakan.
Sang Babah selalu membujuknya agar bisa saja pindah ke tempat lain agar jangan jenuh. Babahnya selalu mengatakan, sesuai dgn pengalaman Babah di Gontor, rasanya jika lebih dari tiga tahun sudah terasa kejenuhan yang tak terbendung.
Jika ditanya, mengapa Zahra terus bertahan di Muqaddasah tanpa ada keluhan. Disamping ia ingin adiknya si Nadwa juga masuk kelas satu SLTP Muqaddasah, ia di kelas satu SLTA, maka akan mudah bagi orangtuanya untuk mengunjunginya.

Zahra selalu dikunjungi
Selama di SLTP Muqaddasah, Zahra tergolong selalu dikunjungi Nenek, Ummi dan Babahnya. Setiap semester dan jika ada penjualan ticket yang murah, Zahra selalu dikunjungi oleh orangtuanya. Babah Zahra juga sering menyempatkan mengunjungi Zahra pada saat ada kegiatan di Jkt, dan sekitarnya langsung melihat anaknya di Muqaddasah.

Pak Sanusi
Ketika di SLTP Muqaddasah, babahnya berkenalan dengan salah seorang masyarakat, asal Medan, yg memiliki warung nasi di desa Gandu. Makanan yang disukai Zahra hanya tinggal pesan. Biasanya, jika nafsu makan Zahra menurun, sang Babah selalu menelpon pak Sanusi agar dikirim ke zahra makanan yg ia sukai. Seperti opor ayam, sambal ayam, ikan , sayur bening dll.
Pak sanusi juga yang mengangkat jenazah Zahra dari asrama, menuju rumah sakit Ponorogo, dengan hasil diagnosa dokter dehidrasi, kurang dan kehabisan cairan tubuh. Akhirnya tak terbantu dan pilihan Allah terbaik baginya: zahra wafat dan kembali kepada Allah.

Jasa Pondok Buat Zahra
Ia selalu berbicara tentang kenyamanan hidup di pondok. Dalam catatan hariannya, ia menulis:
Tulisan tangannya di agenda tertanggal  23 Februari 2013, ia menulis:
Dari kehidupan yang banyak ku lalui di pondok ini:
Aku banyak belajar ketulusan
Aku banyak belajar tentang arti kehidupan
Aku banyak belajar tentang kasih sayang
Aku banyak belajar tentang pengorbanan....

Ini menjadi bukti bahwa zahra sangat merasakan jasa pondok mendidiknya dan mendidik adiknya si Nadwa yang masih di kelas dua SLTP (2013) sangat terasa dengan nyata. Mungkin, Zahra melihat sikap dan akhlak si Nadwa jauh berubah, jika dibanding ketika di Medan atau awal masuk pondok.
Zahra juga selalu mengatakan bahwa pondok sangat berjasa baginya. Sosok Kiai Hasan Abdullah Sahal yang sangat disegani, serta sederet ustaz dan ustazah yang penuh tulus ikhlas mendidik dan mengasuh santri dari tingkat SD hingga SLTA yang tiada duanya, menjadikan Zahra sangat mencintai Muqaddasah.

Kondisi Zahra Ketika Sakit Terakhir
Memang sudah sering Zahra terserang demam, batuk dan flu. Penyebab utamanya adalah kondisi cuaca yang ekstrim bagi Zahra di Ponorogo.  Demam panas ini  selalu berakhir dengan kurang gairah minum dan kurang selera makan. Demikian juga semangatnya untuk minum suplemen tambahan juga sangat terbatas. Akibatnya, tubuhnya semakin kurus, tetapi memiliki semangat pantang menyerah utk menghafal Quran dan belajar tak kenal lelah.

Penuturan Nadwa (adik zahra)
Adiknya yang satu kamar dengannya mengatakan bahwa kak Zahra terserang demam panas biasa, dan memang kurang nafsu makan. Tapi, tak menyangka jika kondisi ini mengantarkannya untuk kembali keharibaan Allah. Pada saat kronis, boleh dikatakan pingsan dan kejang, tak ada yang tahu. Karena sang adik sedang ikut ujian tahfiz.
Karena antrian ujian tahfiz, maka si nadwa tak mengetahui kakanya telah menghembuskan nafas terakhir. Sejak zuhur sampai dengan ashar ia tinggalkan kakaknya di kamar sendirian, ternyata sanga kakak pingsan dan kejang hingga shalat ashar.
Ketika shalat ashar tiba, santriyah kembali ke kamar melihat zahra sudah tertidur dan wafat, meninggal dunia. Hanya tingga sisa-sisa panas badan yang ada. Pada saat itu, pak sanusia langsung mengangkatnya dan membawanya ke r.s ponorogo.
Setibanya di r.s, sang dokter dan perawat marah kpd ustazah asrama. Mengatakan bahwa zahra kritis dan wajib masuk ICU. Tekanan darah si zahra hanya tinggal sisa-sisa, drop dan habis tak tertolong. Jadi, di rumah sakit hanya tinggal sakaratal maut dan wafat, sekita 15 menit di rs ponorogo.
Si nadwa tau bahwa sang kakak seperti demam biasa, dua hari kemudian baik dan sehat. Tapi, ketika shalat isya ia melihat ambulance pulang pergi ke pondok. Ia bertanya, siapa yang akan dibawa ambulan? Pada detik itu jjuga, masjid menggunakan mikropon besar keluar: innalillahi wainnailaihi raajiuun, telah wafat hj. Millian azaahra, 17 tahun, kls dua slta muqaddasah.menjelang magrib di r.s ponorogo.
Pada saat yang sama ust fikri dan ust lainnya sangat terkejut. Khusus ust fikri, pada paginya masih menerima candaan zahra yang mengatakan bahwa adiknya si fatiya sangat senang dengan boneka besar warna biru. Lantas, zuhur ust fikri ke ponorogo, mengirimkan ke alamat rumah zahra di medan. Laksana putus cinta, ust fikri menghubungi umminya di medan. Menyesal dan merasa bersalah krn sudah seminggu tak sempat berjumpa zahra.

 Agif Selalu Bantu zahra
Karena pertimbangan suasana ujian sudah dimulai , Ummi Zahra menelpon pak sanusi agar Zahra dibawa saja ke rumah sakit, sesuai anjuran ustazah Afi, karena berobat di Rumah Sakit mungkin lebih baik bagi zahra daripada sekedar diterapi, sebagaimana yang dilakukan ustazahnya dalam seminggu ini.
Pada saat yang sama, umminya menelpon si Agif (keponakan yg jadi ustaz di Gontor ) agar segera menuju rumah sakit umum Ponorogo. Dengan harapan si Agif memberikan motivasi agar Zahra kerasan di rumah sakit dan ada teman yang memberikan berita ke Umminya.
Pada saat itu juga, babahnya menghubungi pihak travel agar terbang pakai psawat Lion menuju Solo dengan umminya. Dengan harapan, selama ujian akan ditemani oleh Umminya yg sedang hamil enam bulan. Karena, zahra tgl 16 juni tepatnya setelah ujian akan dibawa pulang. Ticket tanggal 16 Juni untuk Zahra pulang ke medan sudah disiapkan.

Bang Rahmat dari Solo
Cemas dengan kondisi Zahra di rumah sakit, maka bang Rahmad yang di Solo disuruh Babahnya utk berangkat ke Ponorogo. Dengan maksud, agar si Zahra merasakan bahwa malam itu ada famili dekat yang datang. Pak rahmad adalah sepupu Umminya Zahra.

Arifin dan Widia menemui Kiai Muqaddasah
Mendengar kabar zahra telah wafat, maka Babahnya membatalkan ticket  ke Solo. Hanya berharap kepada Haji Arifin dan Haji Widia yang punya anak di Gontor, berkenan ke Muqaddasah menjumpai Kiai Hasan, pimpinan dan pendiri Muqaddasah, menyampaikan pesan kami dari Medan: Musibah wafatnya Zahra adalah pilihan Allah yang terbaik.  Eluarga di Medan sudah menerima musibah ini dengan ikhlas dan sabar. Dengan segera Pak Widia dan Arifin menuju Ponorogo dengan dibantu oleh Haji Gazali, MA pemilik Asia Tour.

Pondok Muqaddasah Berduka
Seisi Muqaddasah berduka. Pal Kiai, Ustaz dan Ustazah tak sanggup lagi memilih kalimat bertutur kata. Melalui masjid diumumkan bahwa zahra wafat. Jenazah akan dishalatkan setelah shalat isya di masjid Muqaddasah. Adiknya si Nadwa mengetahui berita ini melalui pengumuman di masjid Muqaddasah berulang kali. Pembaca pengumuman itu – kata Nadwa – menangis dengan suara terisak-isak mengumumkan tiga kali.
Ketika ambulan tiba, suasana duka tak terbendung. Disisi lain, ust.Fikri sangat kaget, karena siangnya baru mengirim paket  dari Pos Ponorogo, buat adik si Zahra yang sangat suka dengan boneka. Seakan tak pecaya, Ust Fikri menghubungi ummi zahra dan derai air mata kesedihan terlihat di semua wajah.

Jenazah  ke Juanda, Surabaya  
Babah zahra sangat bermohon agar Muqaddasah mengirimkan jenazah Zahra ke bandara Juanda di Surabaya. Turut bersama almarhumah adik Zahra yaitu Nadwa. Ustazah Afi dan wali kelas Zahra: ust. Rudi. Tepat jam 12 malam, jenazah Zahra menuju Bandara Juanda. Pondok menjadi hening tiada terkira, tiap sudut bersedih dan berita duka menyebar ke mana-mana. Bersama pesawat Lion Air, Muqaddasah Mengutus Ust. Rudi dan Ustazah Afi.

Disambut di polonia Medan
Chandra di Polonia yang sering mengantar Zahra di Polonia juga sangat terpukul dengan berita duka ini. Terlihat, segala lobby dan usaha ia lakukan agar peti jenazah Zahra cepat keluar dari kargo  Lion. Bang Kasman dan Ust. Malik juga sudah siap menjemput ust Rudi dan ustazah Afi. Serta dari IKPM bang Yulizar membawa mobil foredes, agar jenazah cepat sampai ke rumah duka.

Isak Tangis di Medan
Rabu kelabu, Jam 12. 50 setelah transit di Batam, jenazah Zahra tiba di rumah duka. Jalan binjai km.11, suka bumi baru no 177. Sekitar seribu lebih  pelayat berduka dan jalan penuh sesak. Hanya beberapa orang saja yang sempat menyaksikan wajah Zahra ketika dibuka dari peti jenazah yang berwarna putih itu. Zahra Laksana ‘Artis’ sehingga semua pentakziyah datang dan turut berduka. Sebelumnya Prof. Dr. Ramli Abdul Wahid, Ketua Majelis Ulama Sumatera Utara memberikan tausiyah turut berduka, kemudian Dr. Sukiman, MSi Dekan Fak. Ushuluddin, mewakili IAIN Sumut. Turut hadir tokoh masyarakat terkemuka di Sunggal Pak Drs. H. Malik dari Yayasan Amaliyah.  Hadir dalam acara itu juga Ketua MUI Medan Prof. H. M. Hatta dan Ketua majelis Taklim Jabal Noor KH. Zulfikar hajar, Lc membacakan doa di depan jenazah Zahra.
Acara yang dipandu oleh Drs Armianto itu penuh duka dan tetes air mata. Berjam-jam alunan tilawah quran murattal dibacakan oleh Ust. Zainul Akmal,M.A, Qori Juara Satu Internasional Ust. Jakfar Hasibuan serta para aktifis muda seperti Sariman Sag, Agus dan Ust Cece Ramli.

Shalat Jenazah Zahra Berulangkali
Menurut berita bahwa Zahra telah disholat jenazahkan di Muqaddasah, di BKSM di Gontor. Juga disholatkan di mushalla di belakang rumah duka, dan di Masjid Raya Gebang, kabupaten Langkat,  dipimpin oleh ketua MUI H. Mahfuz. Di rumah duka diimami oleh babah Zahra sendiri.

Sholat ghoib di Madinah dan Mekkah
Pada saat yang sama, beberapa teman Babah Zahra yang sedang berumrah juga mensholatkan Zahra di Mekah dan Madinah seperti ust. Fajrul Hak, MA dan ust Latif Khan, Sag. Lebih seribu sms turut berduka masuk ke hp.Babah Zahra dan ke  Umminya.

Prosesi pemakaman oleh MUI Langkat
Di Lokasi pemakaman di halaman Masjid Raya Gebang, pemakaman keluarga, sekitar 1,5 jam dari rumah duka, Zahra juga disholatkan dengan imam Haji Mahfuz, ketua MUI kab. Langkat  hadir juga ketua ICMI Langkat H. Saiful Abdi, SE,SH,MA dan lain-lain, khususnya sanak keluarga zahra yang di kabupaten Langkat.

Keluarga  Memahami Kondisi Pondok
Ummi Zahra, Babah Zahra dan semua keluarga memahami kondisi musibah ini. Ini adalah pilihan terbaik dari Allah. Tidak ada siapapun yang bisa disalahkan. Karena jika ajal telah tiba, ia tak dapat dipercepat atau diperlambat barang sedetikpun. Manusia hanya berencana dan terus berada dibawah rencana terbaik yang sudah disiapkan oleh Allah buat Zahra. Ada yang mengatakan, ibarat padi yang siap untuk dipanen, tiba-tiba Allah memilih untuk mengambil Zahra karena Allah adalah pemilik asli nyawa ini.

Nadwa tetap melanjutkan misi zahra
Sudah tiga hari almarhumah Zahra meninggalkan kita semua. Tapi, sang adik yang masih duduk di kls dua SP Muqaddasah tetap ingin meneruskan perjuangan sang Kakak. Tidak ada rasa kecewa sedikitpun dari raut wajahnya. Ia tetap ingin menamatkan sekolahnya di SLTP Al Muqaddasah. Sebuah sikap patriotisme bagi sang adik yang masih duduk di kelas dua SMP.
Menanti Hikmah Wafatnya Zahra
Semua kita menanti hikmah dari wafatnya bunga agama ini. Zahra artinya bunga. Millia dalam bahasa urdu artinya agama. Millia Az Zahra adalah Bunga Agama. Sesuai dengan namanya, ternyata Zahra benar-benar menjadi Bunga Agama. Semoga menebar harum semerbak bagi keluarga, pondok dan siapa saja yang mengenalnya.
Zahra wafat dengan meninggalkan dua adiknya. Nadwa (14 thn) dan Fatiya (8 thn), serta umminya sedang hamil enam bulan. Semoga, bayi yang dikandung ini akan mampu meneruskan perjuangan Zahra yang hanya  pernah duduk di kelas dua akhir Pondok Muqaddasah. Meninggalkan kita pada saat ujian akhir semester empat.
Sudah lima tahun zahra melewati masa santriyah di Muqaddasah, hanya tinggal setahun, Allah memilihkan taqdir terbaik buat anak pertama pasangan Muhammad Sofyan dan Hj. Herlina, MA ini.

Setelah malam ketiga tahlilan:
Babah terus terbayang wajah zahra. Kebiasaan babah asala pulang dari tugas, menanyakan dimana ummi dan zahra. Terkadang, si zahra bersembunyi di belakan pintu, mengejuti sang babah. Itu dilakukan zahra lebih dari tiga kali pada saat liburan semester bulan januari lalu.
Ketika masuk pintu kamar, terkadang sang babah sangat hati-hati dan terbayang dengan kejutan zahra dari belakang pintu. Gambar zahra yang masih di turunkan dari dinding, sellau ia pandangi dalam-dalam, seakan zahra muncul dan datang.
Dalam mobil, sangat sering sang babah teringat ketika melintas di toko sepeda, saat ia belikan zahra sepeda dengan membawanya di belakang pesva. Juga membawa zahra ke toko sepeda terbaik, sepeda yang berwarna merah, yang sangat disukai zahra. Kenangan ketika kecil terus mematri pikiran sang babah tentang zahra yang cerdas, berani pidato dan ikut membangun rumah, mengangkat batu bata bersama umminya. Sebagai anak yang tertua, zahra sangat care dan menjaga dua adiknya dengan setia.
Pemuda masuk keranda zahra:
Pemandangan yang lucu dilakonkan oleh si ari dan fahmi. Yang suka azan dan membersihkan mushalla di belakang rumah. Tanpa merasa takut, ia masuk ke dalam keranda zahra yg berwarna putih di masjid, sebelum keranda itu diwakafkan utk STM masjid istiqamah dan di simpan dalam gudang.
Demikian juga dengan si fahmi, ia masuk ke dalam peti jenazah itu. Mereka sekana serentak mengatakan: lebih baik kami yang cepat dikuburkan, karena kami jelas lebih banyak dosa daripada si zahra. Tiga haripeti jenazah yang dari muqaddasah itu, selalu mengingatkan sang ummi dan babah dengan jenazah zahra dari ambulance pks binjai, yg menjeputnya dari Polonia. Sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan di luar pikiran waras manusia biasa.
Seminggu Zahra Wafat
Sang adik Nadwa terserang batuk parah. Demam panas. Dibawa ke dokter fuad. Tiga hari baik. Keesokan harinya adiknya si Fatiya juga sakit demam. Kata dokter spesialis anak Dr.Fuad, fatiya terserang demam, kurang istirahat dan juga terlalu lelah ketika ribuan pelayat datang tiada henti. Kemudian umminya yang hamil tujuh bulan, juga terserang demam.
Ketika makan malam dengan kesukaan zahra, sang bapak teringat dan melihat foto zahra, sambil menangis. Di kamar nadwa mendengarkan hafalan qurannya ke umminya. Sementara si fatiya juga berlinang air mata, mengingat jasa baik sang kak zahra kepadanya, setiap menelpon ke rumah.
Dua minggu sudah zahra wafat. Setiap selasa menjelang magrib sangat terasa bagi si babah kepiluan dan kesedihan yang mendera. Teman sejawat dari kampus datang. Memberikan kalimat penyemangat dengan kata-kata: zahra anak surga. Zahra menjadi tabungan ummi dan babahnya. Zahra anak yang belum kenal dgn dunia maksiat dan dosa. Pak Dekan Fakultas ushuluddin IAIN Sumut, Dr sukiman membacakan sebuah hadist qudsi:....man istaslama liqhadhaai, wayardha lihukmi, wayasbiru ala balaai, baastuhu yaumalqiyamati ma’alanbiyaai wassiddiqiin wa syhuhadaa washaalihiin:
Artinya: siapa saja yang pasrah dengan keputusan Allah, rela dengan hukum allah dan shabar dengan musibah yang datang dari Allah, maka ia akan dibangkitkan dengan para orang jujur, para shuhada dan shalihin.....
Nadwa seakan trouma
Walau si nadwa sangat tegar dan tabah, tapi ketika tidiur tanpa ia sadari ia mimpi dan spontan mulutnya menangis dan mengeluarkan air mata. Berkali-kali di tengah malam, sang babah terbangun dan menghitung anaknya, sekan masih tiga, zahra masih hidup. Tapi, godaan syaithan itu  ia tepis dengan mengambil air wudhlu dan tahajjud.
Si nadwa tak mau dikatakan stres. Hanya saja jika umminya bertanya kepadanya tentang si zahra, bagaimanakondisi si zahra aeminggu terakhir, maka si nadwa tak mau menjawab. Ia sedih dan enggan berkomentar. Terus, sang babah mengatakan: nadwa, itulah namanya stres. Pikiran kita tak mau menceritakan kondisi ‘musibah’ kak zahra.
Siangnya, ia berdiskusi dengn ummi dan nadwa, agar nadwa cukup hanya dua tahun di muqaddasah. Istirahat dan berobat dengan serius. Jika sehat, kembali mengikuti tahfiz quran dengan guru privat yang didatangkan teman umminya. Dan mengikuti ujian kelas tiga SMP di MTS pulau banyak, tanjung pura, di sekolah yg babahnya sendiri sebagai ketua yayasannya.

Seakan zahra tau bahwa ajal menjeputnya:
Sebulan sebelum wafat, si zahra masih berjumpa dengan babahnya. Babahnya sangat heran ketika anak sulung ini mengatakan sengan sangat serius: inilah kunjungan babah terakhir buat zahra. Nanti zahra akan kembali dengan nadwa aja. Skrg barulalh sang babah sadar, bahwa ucapan itu isyarat bagi nya bahwa naka kesayangannya akan mendahuluianya mengejar surga.
Sang babah juga teringat ketika zahra meminta makanan yg sangat aneh, yaitu ayam utuh panggang dua ekor. Satuu untuk temannya sekamar dan satulagi utk makan dengan babahnya di kamar dgn banna, imad, agif yg sedang nyantri di gontor putra.
Sang babah juga teringat dengan ucapan zahra, bahwa ia sangat gembira jika dikunjungi babah. Dan hampir setiap minggu ada saja kawan babah yg datang melihat si zahra di ppondoknya. Si babah jg teringat telp zahra terakhir, via telp temnanya ia mengatakan sangat rindu dgn babah dan ummi. Karena hp umminya off, maka ia telp babahnya. Ini terjadi sebulan slm wafat.
Zahra juga engatakan kpd si nadwa bahwa ia merasa bahwa ia akan meninggal dunia. Ia mengatakan,”Nadwa, kakak rasanya mau meninggal dunia. Mau mati rasanya ini”. Dengan nada ringan nadwa mengatakan,”kakak sakit apa?” kan ada ASKES Babah, ayo kita ke rumah sakit. Si zahra mengatakan,”kakak sudah mau wafat, meninggal dunia. Sama aja, di sini mati dan di rumah sakit juga akan mati, Nadwa”. Ini terjadi pada hari minggu, senin dan selsa sebelum zuhur.
Khusus pada hari minggu, hari biasanya zahra dan nadwa menerima telpon dari umminya, tidak ada tanda-tanda bahwa zahra akan meninggal dunia pada hari selasa. Baik zahra dan nadwa hanya meminta doa dari ummi dan babahnya, agar keduanya lulus dalam ujian tahfiz quran yang akan dimulai besok: senin.
Setelah menelpon kedua anaknya, sang babah dan ummi mencari fhoto zahra siang dan malam, mengumpulkannnya dengan maksud bahwa kedua anak ini akan mengukir sejarah keluarga besar dalam menghafal quran dan mencintai pesantren. Meneruskan perjuangan babah yng sudah mulai sering terserang masuk angin dan batuk sera pegal-pegal.
Sangat lama mata sang babah dan ummi tertegun, melihat tulisan zahra yang ditunjukkan oleh si fatiya di FB nya, ketika liburan semester:

Tulisan Zahra di Facebook, Januari 2013:
Andai daun tak pernah marah dengan ‘angin’ yang menjatuhkannya, akankah aku harus marah dgn ‘takdir’  yang akan menggugurkan ku...

Sang babah dan ummi membuat album khusus zahra, ia buat judulnya, Foto Pengobat Rindu Buat Zahra:
Zahra dan Keluarga
Zahra Kecil
Zahra di New Delhi, India
Zahra di Jeddah, Arab Saudi
Zahra di TK ABA Jogja
Zahra di SD Tekad Mulia
Zahra di MDA Al Jawahir
Zahra bersama Nenek dan Atok
Zahra Lebaran Bersama Nadwa dan Fatiya (tahun 2011)
Zahra bersama Nadwa di Batu, Malang (Februari 2013)
Zahra Lebaran di Danau Toba (2012)
Wajah Zahra di kelas dua SLTA Al Muqadasah

Semua gambar dan foto ia lihat lantas ia kumpulkan. Tapi, ia sangat heran ketika ia cari satu foto kesayangan babahnya yang tak ditemukan. Yaitu: fhoto zahra ketika ditepungtawari, akan berangkat ke Muqaddasah.

Penutup: Mengejar Surga
Tulisan di atas adalah kisah nyata, bagaimana seorang anak tertua Zahra yang sangat ingin menjadi Hafizah Quran dan sangat ingin membahagiakan orangtuanya, dipanggil Allah dengan mudah. Ia kembali keharibaan Allah dengan tersenyum ceria, sementara semua orang yg melihatnya berderai airmata. Menangis sedih, mengapa begitu cepat Allah  memanggil kekasih Nya ini.
Ternyata, zahra mengejar surga di Muqaddasah. Ia kejar surga yg dijanjikan Allah dengan Quran. Menghafal dan mengamalkannya secara maksimal tidak ada dibenaknya, kecuali menjadi hafizah quran khatam 30 juz dan menggembirakan orangtuanya ketika wisuda tahun depan dengan panggilan: Hafizah Hajjah Millia Az Zahra, penghafal 30 juz quran. Itulah yg diharapkannya.
Takdir dan pilihan keputusan Allah ternyata lain. Allah sang penentu masa depan Zahra memilihkan taqdir yang terlebih baik dan terlebih indah. Zahra wafat sambil tertidur. Di asrama pondoknya, Muqaddasah. Visum dokter di rs. Ponorogo hanya mengatakan bhw Zahra kekurangan cairan. Karena terlalu lelalh dan kurang istirahat serta kurang banyak minum dan makan buah.
Yah, inilah keputusan Allah. Zahra mengejar surga Allah dengan caranya. Dan Allah memilihnya menjadi pengejar surga di pondook pesantren Muqaddasah. Semoga!

Selasa, 28 Mei 2013

Pancinglah "Rizki" dengan Sedekah



Pancinglah ‘Rezeki’ Dengan Sedekah...

Cuplikan Ceramah
Ust. Dr.H.M.Sofyan Saha,Lc.MA
Di Ramadhan 1433 H

‘Dengan membeli buku ini berarti anda telah ber ‘sedekah’ setengah meter persegi tanah,  guna pembebasan lahan dan operasional Pesantren Wirausaha Indonesia, Pimpinan Ust. Sofyan Saha DKK di Langkat, Sumut’


Syiar Kita:
1......Siapa saja yg ditakdirkan Allah ‘sulit’ rezekinya, maka hendaklah ia bersedekah dari sebagian sisa harta yang diberikan Allah. (Quran, Surah At Thalaq:7)
2.....Tidak akan berkurang harta yg disedekahkan, akan tetapi terus bertambah, bertambah dan bertambah (Hadis riwayat Muslim).
















Bahan Rapat Ikatan Dai Indonesia dgn para Pengusaha Medan
Sabtu, 8 sept 2012,jam 17.00 sd 18.30 di RM. Wong Solo, Jln. Gajah Mada, Medan.

Inilah Pesantren Wirausaha Ikadi:
(Disingkat dengan nama PEWIRA Ikadi)

Dasar Pemikiran:
Tidak ber ‘action’ kita pasti akan mati, dengan ber’action’ kita juga akan meninggalkan dunia ini, maka Ikadi Sumut perlu membuat terobosan asset dakwah, dan menjadi icon sejarah hidup bersama.

Maka:
‘Dicetuskanlah ide utk membangun Pesantren Wirausaha Ikadi’
Didirikan untuk mendidik tamatan SLTA dan anak Indonesia yg Putus sekolah, dibina selama setahun utk berwirausaha. Seperti: terlatih untuk bisnis, berdagang, wirausaha ekonomi kreatif, latihan montir mobil, mekanik mesin, listrik, komputer, bertani sayur mayur dan beternak ikan lele, gurami, nila, penggemukan sapi, kambing, budidaya ayam kampung, leadership, pidato, khatib jum’at, imam shalat serta  fardhu kifayah.
Mereka juga dilatih dasar berbahasa Inggris, Arab percakapan dan Mandarin bisnis oleh Akademi Bahasa Asing, Alumni Gontor dan Al Azhar Cairo.
Pengelola:
Pesantren Wirausaha ini dikelola oleh Para Da’i Ikatan Dai Indonesia Sumut, pimpinan Ust. Sofyan dkk. Serta kerjasama dengan Rumah Makan Wong Solo, Para Pengusaha Dermawan, Penggiat Sedekah dari USU, Unimed, IAIN, ITM dan serta instansi terkait lainnya yg bergerak di bidang wirausaha.

Tahapan Pembangunan:
1.    Tahun 2012 s.d Desember, pembebasan lahan perdana sekitar tiga hektar dan pembangunan Mushalla Dakwah.
2.    Tahun 2013 pengerasan lahan, pembuatan kolam ikan dan lahan pertanian serta asrama Peserta Didik dan ruang istirahat Dosen.
3.    Tahun 2014, tahun ajaran baru, menerima satu kelas 20 pemuda ‘Angkatan Pertama’ tamatan SLTA atau yg putus sekolah/kuliah, dibina dan disiapkan utk menjadi: WIRAUSAHAWAN dan PENGUSAHA MUDA INDONESIA.
Masa Depan Pesantren Wirausaha:
Manajemen Pesantren Wirausaha ini ditata oleh Badan Wakaf Pesantren Wirausaha dan menjadi Asset Dakwah Ikadi Sumut.  Menjadi pilot proyek Pesantren Wirausaha di dunia, yg memadukan antara semangat wirausaha dan dakwah. Menjadi pengusaha dan da’i, atau menjadi Da’i yang Pengusaha, atau Pengusaha yang Da’i.
Sistem pengelolaan wakaf dan sedekah ini mengambil sintesa dari: Badan Wakaf Al Azhar Cairo, Badan Wakaf Pesantren Gontor, Yayasan Al Athiyah Qatar dan Rumah Zakat Indonesia.
Sumber Dana Awal:
1.    Gerakan cetak buku saku harga ‘sedekah’ dengan sepuluh ribu rupiah, berarti anda sudah bersedekah setengah meter persegi tanah dan bibit pohon serta pembangunan awal/operasional Pesantren Wirausaha. Judul buku saku terbitan Ikadi Sumut: Pancinglah Rezeki dengan Sedekah, Membuat Rezeki Datang Mengejar Kita, dll.
2.    Gerakan lelang wakaf tanah dengan kupon wakaf dan proposal ke pemilik modal yg dermawan.
3.    Dana tak terduga, seperti: wakaf pengusaha lokal, nasional dan internasional lainnya.
Lokasi Pesantren Wirausaha Ikadi:
Lahan awal seluas tiga hektar, Di Tg Pura, Kab. Langkat, Sumut. Areal yg dekat dengan sungai/sumber air.

Mengapa di Langkat:
1.    Sambutan Bupati dan pejabat dan rakyat yg sangat siap membantu.
2.    Ikadi telah dikenal masyarakat luas (Medan, DS,Binjai,Langkat) lebig dari 3  jt warga muslim.
3.    Tidak terlalu jauh dari medan (50 km/sekitar satu jam).
4.    SDM tamatan Al Azhar dan Gontor yg sangat banyak.

Harga Pembebasan lahan:
          Lahan tiga hektar ini seharga: 300 jt. Dicicil hingga akhir Desember 2012.
          Pengerasan lahan dan bangunan mushalla dan asrama awall, kolam dan pemeliharaan tanaman yg ada, sekitar: 300 jt. Jadi, dana yg akan dicari selama 2012 sd 2013 oleh Ikadi sumut sebanyak: minimal 600 jt. Dengan asumsi, jika kita cari 600 orang donatur selama 12 bulan, maka akan terkumpul target 600 jt.


Usaha yg telah dan sedang dilakukan:
1.    Mendapat dukungan penuh dari: Ikadi Pusat, Pengurus IPHI Sumut, Rumah Zakat Indonesia, PKPU, Laz Al Hijrah, KBIH Jabal Noor, KBIH Padang Arafah, Bupati langkat dll.
2.    Telah siap buku saku, berjudul ‘Pancinglah Rezeki dengan Sedekah’  dan cover bertuliskan: ‘Dengan membeli buku ini seharga Rp.10.000,- anda telah berwakaf setengah meter tanah guna pembebasan lahan dan operasional Pesantren Wirausaha Ikadi di Langkat, Sumut, pimpinan Ust. Sofyan Saha dkk’
3.    Banyaknya SDM yg siap membantu dan sejumlah pemuda yg siap dididik setahun di Pesantren Wirausaha Ikadi sumut.
4.    Ini adalah hal yg pertama di Indonesia.
5.    Dua operasional mobil Ikadi Sumut dan mobil Dakwah Ikadi Langkat dapat dimaksimalkan sebagai operasional awal mencari dana awal Pembangunan Pesantren Wirausaha Ikadi Sumut.
Jika ini terbangun, maka:
1.    Ikadi sumut akan melahirkan setiap tahun minimal 20 tamatan pewira ikadi, yg siap jadi pengusaha dan da’i.
2.    Ikadi sumut memiliki lokasi pendidikan dan latihan yg luas.
3.    Menjadi tempat wisata dakwah dan out bound yg menarik, berolahraga, mabit, mancing dll.
4.    Dapat dibuka Pesantren Wirausaha Ikadi di kabupaten atau kota lain.


Motto Pesantren Wirausaha:
Selamatkan Negeri ini  dengan Terampil Wirausaha dan Dakwah Islamiyah. (Save this country by enteurprenership and Islamic preaching).

Penutup,
Terakhir, semuanya dimulai dari niat dan tekad yg luhur utk kejayaan umat di masa mendatang. Semoga allah Swt mengabulkan ‘impian’ ini, selama bermimpi masih gratis dan halal.
Medan, Sept 2012Tim Inspirator:
Sofyan, Razak dan Ust. Baringin.







Prakata:
Bismillahirrahmanirrahim
Pembaca Penggiat Sedekah,
Allah itu adalah Tuhan Maha Pembalas. Maha Perekam semua tingkah laku kita. Maka, apapun yg kita lepaskan dari diri kita direkam oleh Allah. Bahkan, diri kita sendiri juga bagian dari ruh Allah Maha Pembalas. Sehingga, apapun yg kita sedekahkan di jalan Allah, pasti akan dibalas Allah dengan cepat, mulai dari balasan duniawi hingga ukhrawi. Pasti dibalas di dunia dan di akhirat.(Wama anfaqtum fahuwa yukhlifuhu:apapun yg kalian infaq kan, maka Dia pasti akan menggantinya)
Benda berupa uang dan harta lain yg kita sedekahkan itu pada hakekatnya hidup. Tidak ada benda yg mati di sisi Allah. Bahkan, orang mati itu hidup di mata Allah. Jadi, harta yg kita sedekahkan itu hidup. Bertasbih kepada Allah Allah. Sangat gembira dengan Penggiat Sedekah. Sehingga ia ingin dikembalikan ke Penggiat Sedekah itu dalam bentuk lebih baik dan lebih banyak. Buktinya, tidak ada Penggiat Sedekah yg bertambah miskin. Terus bertambah berkah dan bertambah hartanya. Sementara, mereka yg pelit, kikir dan menahan harta, atau sedekah sangat minimal, sering tertimpa musibah. Sehingga, dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa sedekah itu mampu menjadi ‘tangkal’ musibah. Berarti, semakin maksimal kita bersedekah, maka akan semakin terpelihara dari musibah dan krisis.
Krisis bangsa ini, sangat saya yakini dari moralitas sedekah kita yg sangat menurun. Harta lebih banyak di ‘saving’ daripada di ‘giving’. Lebih banyak disimpan, ditahan dan tak produktif. Semoga Allah selamatkan kita semua dari moralitas dan prilaku kikir bin pelit. Dan melimpahkan cucuran rahmat Nya dengan kegiatan sedekah yg kita lakukan setiap hari.

Medan,
Syawwal 1413 H

M. Sofyan






Sedekah Melapangkan Rezeki
          Krisis yg melanda berbagai negeri saat ini dimulai dari sistem kapitalis dan individualis yg akut. Kapitalis bersifat menumpuk harta, yg kaya semakin kaya. Sebaliknya, yg miskin akan semakin menderita. Sedangkan sistem individualis adalah sistem menyelamatkan diri sendiri. Tidak ada upaya menyelamatkan orang lain yg sedang susah.
          Dengan bersedekah setiap hari, kepada kerabat dekat dan jiran tetangga, serta kepada lembaga pendidikan diharapkan mampu mengatasi berbagai krisis yg sedang dihadapi negeri ini. Yang kaya bersedekah kepada yg miskin, yg miskin bersedekah kepada yg lebih miskin, yang lebih miskin bersedekah kpd yg fakir. Yang fakir miskin bertekad akan menjadi ‘Penggiat Sedekah’, jika keluar dari kemiskinannya.
          Dengan semangat memberi dan bersedekah ini, maka rezeki dan rahmat dari Allah akan semakin terbuka. Sebaliknya, sistem kapitalis dan individualis, akan menjadikan kita semakin kikir dan menuhankan harta. Karena, kemiskinan yg menimpa negeri ini disebabkan dari cara fikir yg bakhil dan menjadi prilaku bakhil. Sehingga seakan terjadilah pertandingan lomba bakhil dan bukhala.
          Masyarakat terbaik dalam sejarah panjang dunia ini adalah masyarakat Madinah Al Munawwarah, dipimpin oleh Muhammad bin Abdullah, Nabi dan Rasul Allah yg sangat mulia. Menggerakkan dirinya, keluarga muhajirin dan anshar saling memberi sedekah. Dengan saling memberi, lahirlah kasih sayang di antara mereka. Dalam waktu tak lebih dari tiga tahun, kaum muslimin telah menguasai ‘Pasar Madinah’. (wayuktsiruna ‘ala anfusihim walaukana bihimul khasashah).
Belum serius dengan sedekah
          Salah satu virus keimanan kita adalah tak serius dengan konsep zakat, sedekah, infaq dalam Islam. Padahal, prilaku ‘memberi’ dalam rukun Islam menjadi rukun Islam yg ke empat, yaitu: zakat.
          Kalimat sedekah, zakat, infaq, memberi, membantu org lain dalam quran lebih dari 333 kali terulang. Sebelum atau sesudah ayat itu disebutkan, selalu ada perumpamaan dan misal yg sangat jelas. Seperti dalam surat al baqarah dan surat lainnya, puluhan kali terulang kata infaq atau infaq dikaitkan dengan datangnya rezeki dan kemakmuran.
          Akibat terjajah terlalu lama, prilaku penjajah itu adalah sangat pelit dan kikir. Lihatlah penjajah negeri Eropa, seperti Belanda dan Inggris, mereka dipastikan tak siap jika negeri yg dijajahnya itu lebih maju dan lebih kuat dari mereka. Segala cara mereka lakukan, agar kita tetap menjadi negara yg mengemis dan miskin meminta-minta.

Memancing rezeki dengan sedekah
          Ketika kita bersedekah di jalan Allah, di wilayah yang diridhoi Allah, maka kita sangat dekat dengan malaikat. Sementara, mereka yg menahan harta, malas bersedekah, dan terus mengeluarkan hartanya di jalan yg tak ridhoi Allah, maka ia sangat dekat dengan syaithan. Sebagaimana firman Allah: Syaitan mengajak kalian agar miskin (dgn menahan harta) sementara Allah menjanjikan balasan keampunan dan limpahan rezeki (bagi penggiat sedekah).
          Ali bin Abi Thalib diajarkan oleh Rasulullah dengan prilaku sedekah. Akibatnya, jika Ali bertemu dengan kaum yg kikir, pelit dan miskin, maka ia  selalu mengatakan: pancinglah rezeki dengan sedekah. Maknanya, jika kita menginginkan rezeki yg besar, maka kita harus menyiapkan pancing dan umpan sedekah yg besar pula.

Spirit of giving dalam Quran
          Kitab suci Al Quran dipenuhi dengan ajakan Allah utk bersedekah, infaq, zakat, memberi dan lain-lain. Tidak ada satu ayatpun yg mengajak umatnya untuk menahan harta, menyimpan dan tak memberikan manfaat kpd org lain. Bahkan ancaman bagi mereka yg bakhil dan menyimpan harta, sangat tersiksa di akhirat kelak (fatuqwa biha jibahuhum, wa qiila haza ma kanaztum lianfusikum: harta itu akan digogokkan ke wajah mereka, kemudian dikatakan kpd mereka,”Inilah harta yg kalian simpan di dunia dulu,utk diri kalian saja”.
          Semangat bersedekah dan motivasi memberi dalam Quran digambarkan Allah kepada kaum Madinah Al Anshar . mereka berinfaq dan bersedekah utk kaum Muhajirin. Akibatnya, kaum Anshar semakin makmur. Kota Madinah semakin maju. (wa yukstiruna ala anfusihim, walau kaana bihimul khasasah: mereka mengutamakan sedekah kepada orang lain, walau mereka sendiri dalam kondisi sulit).

Tak kenal kalimat ‘mengemis’
          Islam tak mengenal kata mengemin dan meminta-minta di jalanandan dari rumah ke rumah. Sebaliknya, Islam mengajarkan umatnya utk memberi. Memberi sedekah dan infaq kepada siapa saja.
          Rasulullah dan Shahabat sangat benci kepada orang yg mengemis dan meminta-minta. Sangat banyak anjuran utk berinfaq kepada keluarga dekat (zawil qurba) dan sabda Rasulullah yg sangat tegas: Seseorang dari kalian  daripada menjual kayu bakar, lebih baik baginya daripada hidup dengan meminta-minta dan mengemis (Hadis shahih)

Rasulullah tidak memberi secara musiman. Ia tak bersedekah hanya khusus kamis atau jumat. Tetapi, beliau bersedekah setiap hari. Amalan setiap hari dengan kontinu ini, menjadi prilaku Rasulullah dan Shahabat. Kehidupan para Shahabat dipenuhi dengan konsep memberi. Abu Bakar, Umar, Usman, Ali dll, terus berkorban dan memberikan harta mereka di jalan Allah. Ganjarannya, di dunia mereka mulia. Di akhirat, mereka dijamin masuk surga Nya. Ternyata, Rasulullah tak memberi sedekah musiman. Ia bersedekah setiap hari. Hikmahnya, diceritakan quran, agar harta tak menumpuk di satu kaum. Sementara kaum lain kekurangan harta (hatta la takuna dulatan bainakum). Konsehidup kapitalis dan berlomba menabung harta, tanpa maksimal bersedekah saat ini, sebenarnya awal dari kehancuran umat dan bangsa.

                                  Kisah Penggiat sedekah.
          Kisah Umar bin Abdul Aziz, yg bukan nabi dan rasul dipenuhi dengan kisah kedermawanan. Dalam waktu yg singkat, tak lebih dari tiga tahun ia menjadi pemimpin khalifah, mampu mengatasi krisis di wilayahnya saat itu.
          Di akhir kepemimpinannya, masyarakat sudah terbiasa bersedekah. Terbiasa memberi. Menjadikan sedekah sebagai hobby. Berubahlah cara fikir rakyat, dari cara berfikir meminta atau menunggu utk diberi, dengan cara berfikir segera memberi dan bersedekah.
          Akhirnnya, Umar bin Abdul Azis tak menemukan satu orangpun yg mau menerima zakat fithrah dan sedekahnya, karena, setiap org yg miskin memberikan harta yg disedekahkan khalifah itu ke orang yg lebih miskin darinya. Kettika beliau meninggal, ia meratapi kekesalannya mengapa ia tak bersedekah maksimal sejak masih remaja dan muda belia.


                                        Sedekah menambah harta
Ketika dilantik menjadi ketua pengurus ikadi sumut, pada awal januari 2012, bendahara ikadi mengatakan bahwa sisa kas hanya tinggal 8 juta. Maka, saya membuat terobosan keajaiban sedekah dengan mencetak buku saku, berjudul: membuat rezeki datang mengejar kita. Salah satu kegiatan ikadi adalah menyebarkan buku itu secara gratis dan sebagian dijual utk pengganti ongkos cetak
Ternyata, Allah Maha Pembalas. Dalam waktu tak lebih dari enam bulan, buku saku yg dicetak 5000 eks itu, sebagian besar disedekahnya, menambah asset ikadi sumut. Dengan konsep ini, ikadi sumut diberi wakaf dua mobil dakwah. Satu unit dari rumah makan Wong Solo dgn mobil APV baru dan satu unit lagi wakaf dari keluarga Haji Ngaring Sitepu (Orang Tua Bupati Langkat) dengan mobil avanza tipe G dari showroom. Saya dan kawan-kawan, apalagi sang Bendahara Ikadi Ust Baringin dan Ust Razak sebagai sekum, meyakini betul bahwa sedekah buku saku dibalas Allah dengan wakaf mobil dakwah.

                                      Sedekah itu menyehatkan
          Anak saya si zahra yg sedang menghafal quran di Muqaddasah, ponorogo, pernah terkena sakit parah. Tepatnya awal Juli 2012. Kaki dan tangannya tak bisa digerakkan. Hingga kepala dan jemrinya juga kaku. Semua kami hanya berdoa, semoga Allah memilihkan takdir terbaik buat putri tertua ini.
          Belum kehilangan akal dan usaha, saya dan uminya pergi ke toko buku dan apotik, serta konsultasi dgn berbagai dokter spesialis anak. Obat dibeli jutaan. Zahra dirawat di RSU Ponoroga, kemudian dipindahkan ke RS yg lebih baik. Ikhtiar terakhir yg kami lakukan adalah memaksimalkan sedekah. Neneknya yg ikut menemanidi RS bersedekah seekor kambing. Kami di Medan memaksimalkan sedekah pagi, siang dan malam kepada siapa saja yg membutuhkan.
          Keajaiban sedekah dari Allah segera muncul. Dalam duu puluh empat jam, zahra pulih. Keesokan harinya ketika Uminya tiba di RS tersebut, ia sudah bisa berdiri, berbicara dan tertawa. Dalam tiga hari, penyakitnya sembuh. Dalam sebulan, ia lebih sehat dari sebelumnya. Padahal, kami sdh berniat membawanya ke Penang utk berobat atau minimal cek up.

                                         Logika bersedekah
          Dengan penuh keyakinan bahwa sedekah akan dibalas segera oleh Allah, maka saya terus mengajak diri saya dan kawan-kawan utk bersedekah sebelum khatib naik mimbar dengan duit gambar sukarno (seratus ribu). Bukan duit ‘Pattimura’ yg seribu. Terasa kehebatan Allah, hanya beberapa jam setelah shalat jumat usai, selalu saja ada order seminar, ceramah, peluang bisni dll dari arah yg tak terduga.
          Logika sedekah adalah logika keimanan. Bukan hitungan rasio kapitalis untung-rugi. Beberapa kali saya uji anak dan kawan-kawan dengan kegiatan sedekah baju. Sore hari kita sedekahkan baju, keesokan harinya atau tak berapa lama setelah itu, ada saja rekayasa Allah utk mengganti baju itu dengan hal yg lebih baik. Seperti dimudahkan peluang usaha, digerakkan Allah hati kita utk mudah tidur dan mudah bangun tahajjud. Rumah tangga lebih damai. Anak lebih patuh kpd orang tuanya. Cicilan hutang dapat terlunasi tiap bulan, dll.
Giving not saving
          Hartamu sebenarnya adalah yg kamu sedekahkan. Bukan yg kamu habiskan. Sebuah kalimat hikmah yg keluar dari mulut sang Nabi. Nabi memberikan tanah buat masjid nabawi dan sekitarnya, demikian juga tanah mekah utk para jamaah haji. Diwakafkan, disedekahkan dan diinfaq kan Rasulullah utk anak cucu hingga akhir zaman. Jika Nabi dan shahabat bermental ‘saving’ maka mereka akan meng ‘kavling’ nya.
          Mentalitas ‘giving’ pejuang tanah air juga sangat terlihat dengan nyata. Pejuang kemerdekaan jauh memiliki mentalitas giving. Memberikan pengorbanan harta dan nyawa. Sementara pemimpin pecundang, akan terus berbuat utk ‘saving’. Menabung dan memperkaya dirinya, hingga ia sendiri susah di dunia. Semoga, tak disusahkan Allah di akhirat, Amiin.
  
                               Berebut areal parkir
          Mentalitas ‘saving’ hanya selalu menyulitkan orang lain. Saya selalu menggambarkan, andai ka’bah dipindah ke indonesia, mungkin wilayah pertama yg diperebutkan adalah wilayah parkir. Sementara arab saudi, tak mengenal wilayah parkir. Mereka terus menggiatkan sedekah, akhirnya mereka mendapat cucuran rahmat Allah. Minya dan gas terus bertambah.
Demikian juga yg terjadi di Uni Emirat Arab dan negara Qatar.  Kedua negara ini yg dua puluh tahun lalu tandus dan miskin, kini menjadi pusat bisnis dunia. Kemakmuran negeri terjadi setelah semua rakyat dan pejabat giat dalam bersedekah. Kini, mereka mendirikan Qatar Foundation, yg mampu menguasai club sepakbola dunia Barcelona, Real Madrid dan Manchester city. Demikian jg halnya dgn Fly Emirate, mampu menguasai penerbangan kelas dunia lainnya, dimulai dari kegiatan sedekah maksimal oleh perusahaan itu.

                              Nagih piutang dengan cara sedekah
Suatu hari, saya ditanya oleh anak muda tentang kiat ntotal nagih piutang. Sebabnya, seseorang yg sudah di luar daerah  memakai uangnya sekitar 40 jt. Ia bertanya kpd sy tentang bagaimana cara atau amalan apa digunakan utk menagih piutangnya itu. Karena, ia sedang sangat perlu dgn uang itu.
Spontan, saya katakan coba lakukan sedekah. Minimal seper empat puluh dari nilai piutang itu. Yakni, Kamu bersedekah dgn sejuta. Akhirnya, ia coba dengan memberikan uang 50 ribuan ke org yg lebih susah dari dia. Ternyata, belum lagi selesai ia menyebar sedekahnya dengan uang 50 ribuan ke 20 org yg membutuhkan, tiba-tiba datang sms menggembirakan dari temannnya itu: akhi, ana mau bayar hutang ana kpd antum. Tlg
Sms kan nomor rekening antum segera.
          Menurut saya, disini rekayasa Allah ternyata sangat terasa. Dengan memancing rezeki pengembalian piutang dengan sedekah, ternyata prosesnya lebih aman ketimbang harus pergi ke perdukunan, mencaci maki si penghutang, menteror, atau menceritakan aib dankelemahannya.

                  Mengatasi krisis ekonomi dgn gerakan sedekah.
          Mari kita buat contoh nyata. Andai penduduk suatu daerah 200 ribu jiwa. Yang produktif dan bekerja berpenghasilan 50 ribu orang. Kemudian semuanya bersedekah minimal seribu perhari, maka akan terkumpul harta umat sebanyak 50.000.000 juta perhari. (50.000 jiwa  x Rp.1.000,-)
          Maka, dalam sebulan di wilayah itu akan terkumpul dana sebanyak 50 jt x 30 hari= 1.500.000.000,- . Dengan angka 1,5 milyar itu, suatu daerah sudah bisa memberikan kursi roda kepada penyandang cacat, mengobati warga yg sakit, menyantuni keluarga warga yg wafat, memberikan gizi kepada masyarakat yg kekurangan gizi, memberikan beasiswa kpd pelajar berprestasien, menyantuni penghafal quran,  mensubsidi para Da’i di wilayah terpencil, dll.
          Jika dikelola dengan beternak ikan lele, kambing atau penggemukan sapi, maka ekonomi masyarakat akan lebih membaik.  Sehingga tak  ada pengangguran. Semua sektor bekerja dan bergerak, kemudian yg dan dari bekerja itu kembali bersedekah setiap hari dari hasil pekerjaannya.

                             Pengemis itu menutup rezeki
          Peminta-minta dan pengemis yg datang dari rumah ke rumah dan di lampu merah itu, sangat mengganggu kenyamanan warga. Hingga, org yg terganggu itu terkadang mendokan hal yg tak baik utk si pengemis yg datang. Dengan demikian, sang pengemis akan tertutup pintu rezekinya dari Allah.
          Sisi lain, Malaikat sebagai utusan Allah membawa rezeki sangat tidak suka kepada pengemis. Ketika malaikat menjauh, maka syaitan berdatangan. Ketika syaitan datang dan menggoda, maka sang pengemis berubah niat. Pertama ingin mengemis, kemudian ingin mencuri atau menggores mobil org di lampu merah. Terkadang – sebagaimana diberitahukan ke saya - beberapa pengemis itu menggunakan uang hasil meminta-minta utk merokok, bahkan ada yg berjudi togel.
          Tidak ada satu ayatpun dalam quran dan hadis, menyuruh umat utk menjadi pengemis. Sebaliknya, quran dan hadis penuh dgn perintah utk memberi dan memberikan saham kebaikan kepada org lain.
                                          
                Sedekah membuka ide dan memperluas pemikiran
          Pengalaman sy pribadi, selaku kolomnis di harian Mimbar Umum, setiap hari sy harus menulis dgn judul yg baru dihalaman pertama. Ini saya lakukan lebih dari lima tahun. Tepatnya sejak sy menyelesaikan program doktor dari university of Lucknow nopember,tahun 2004.
          Terkadang, dalam kesibukan sehari-hari saya kehabisan judul utk kolom hidayah itu. Lantas, saya memberikan sedekah kpd tetangga atau setelah shalat subuh jalan pagi langsung bersedekah, secara spontan ada saja ide dan gagasan baru yg muncul. Berarti, sedekah itu mampu meremajakan saraf dan jaringan otak kita. Ya, sy merasakan itu.
          Sedekah juga mampu mengobati rasa jenuh kita. Di kantor seharian, terasa sangat jenuh. Maka, ada saja cara saya utk mengobati stres dan kejenuhan itu. Cara yg paling mudah adalah dengan mengajak kawan-kawan ke kantin atau memberikan sedekah berupa hadiah kpd mahasiswa. Tak terasa, pikiran tercerahkan. Kembali terjadi refresh. Dan segar terasa segar dari Maha Penyegar. Yaitu, Allah sang Maha Pembalas kebaikan

                                       Cara Sedekah Ikhlas
Yakinlah, Tuhan kita Allah SWT itu Maha Pembalas. Dengan membiasakan diri memberi sedekah dan kemudahan kpd org lain, maka kita akan semakin ikhlas. Semakin banyak terlatih memberi, maka akan semakin mudah kita utk ikhlas. Sama halnya dengan khusuk dalam mengerjakan shalat. Terus perbanyak shalat, maka anda akan semakin khusuk.
Jangan dibalik, ikhlas dulu baru sedekah. Atau, khusuk dulu baru shalat. Akhirnya, tak jadi shalat dan tak jadi sedekah. Hidup ini, harus dimulai dengan yakin, optimis dan percaya. Dulu, orang tua kita sangat yakin dgn membaca bismillah dan al fatihah, air putih dapat menjadi obat. Karena, bacaan basmallah dan fatihah itu memiliki energi yg menyenangkan bagi makhluk Allah yg bernama air.
          Kita boleh saja memberikan motivasi diri utk bersedekah dan berbuat baik dengan yakin dan optimis bahwa Allah itu: Maha Pembalas, Maha perekam, Maha Pemberi, Maha Pemudah Rezeki, Maha Mencukupkan Rezeki dan Maha Pemudah Urusan serta Maha Cepat mengembalikan harta yg disedekahkan agar kembali lebih banyak dan lebih baik kepada para penggiat sedekah.